Sabtu, 25 April 2020

ANALISIS NOVEL SHAIDAN


judul
Shaidan

Penulis
Hanna Margaretha

Tema

Percintaan


Abstrak

Shanin memarkir sepedanya dihalaman depan kedai. Cewek berambut panjang sepunggung itu turun dari sepedanya dan hendak memasuki kedai es krim yang sudah menjadi langganannya sejak ia pindah ke kota ini sekitar dua tahun lalu. Dengan senyuman manis bak gula batu, Shanin mendekati kasir untuk memesan menu es krim apa yang ia mau. (Halaman 1)
Motor putih besar itu berhenti melaju ketika pengendaranya melihat gerbang  di hadapannya telah tertutup rapat. Cowo itu kemudian mundur,lalu menjalankan kembali motornya kea rah kanan menuju pagar belakang sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 07:45, artinya Aidan sudah terlambat mengikuti satu jam pelajaran dikelas. Tapi, itu tidak akan menjadi masalah besar baginya. Karena,sejak awal, sekolah bukanlah prioritas utama dalam hidupnya. (Halaman 17)
Orientasi
Shanin memarkir sepedanya dihalaman depan kedai. Cewek berambut panjang sepunggung itu turun dari sepedanya dan hendak memasuki kedai es krim yang sudah menjadi langganannya sejak ia pindah ke kota ini sekitar dua tahun lalu. Dengan senyuman manis bak gula batu, Shanin mendekati kasir untuk memesan menu es krim apa yang ia mau. (Halaman 1)
Komplikasi

“Woi Aidan!” panggil Ali ketika Aidan menjauh. Mendengus pelan, akhirnya Aidan berhenti berjalan. Ia memutar badaan. Ia merasakan benturan di lengannya, bersamaan dengan terdengarnya pekikan tertahan. Aidan terlonjak kaget. Ia merasakan cairan hangat yang hangat menjalar di badannya.
“AWAS!” Gisel memekik ngeri.
“YAH MATI GUE….” Dihadapannya, Shanin beriri panic dengan gelas the di tangannya, yang isinya sudah setengah.
“A---idan, sori, gue ga sengaja” Shanin berucap gugup.
Aidan menatap Shanin tajam, kemudian melengos pergi dari hadapan teman temannya. (Halaman 20-21)
Klimaks

“Shanin.” Sentuhan di bahu kirinya membuat  Shanin menoleh, mendapati pacarnya sedang berdiri disana.
“Gara” sebut Shanin. “Kamu ngapain di sini? Kan belom istirahat.”
“Kamu sendiri ngapain ngapain di sini? Kan belom istirahat.” Gara mengulang ucapan Shanin.
Shanin menangkap nada ketus dari Gara. “Aku mau beli minum, soalnya tadi aku dihukum berdiri di bawah bendera sampai keringetan gini” jelas Shanin
“Bareng Aidan?” Gara memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu menatap Shanin dengan dalam.
“Enggak”
“Enggak apa?Kamu piker aku gak liat kamu ke kantin bareng Aidan? Aku gak bego, Shanin”
Shanin tersentak mendengar itu “Kamu kenapa, sih? Kok tiba tiba sensi gitu?”
“Aku nanya, ya dijawab. Bukan malah nanya



12 komentar: