judul
Shaidan
Penulis
Hanna Margaretha
Tema
Percintaan
Abstrak
Shanin memarkir sepedanya
dihalaman depan kedai. Cewek berambut panjang sepunggung itu turun dari
sepedanya dan hendak memasuki kedai es krim yang sudah menjadi langganannya
sejak ia pindah ke kota ini sekitar dua tahun lalu. Dengan senyuman manis bak
gula batu, Shanin mendekati kasir untuk memesan menu es krim apa yang ia mau. (Halaman
1)
Motor putih besar itu berhenti
melaju ketika pengendaranya melihat gerbang
di hadapannya telah tertutup rapat. Cowo itu kemudian mundur,lalu
menjalankan kembali motornya kea rah kanan menuju pagar belakang sekolah. Jam
sudah menunjukkan pukul 07:45, artinya Aidan sudah terlambat mengikuti satu jam
pelajaran dikelas. Tapi, itu tidak akan menjadi masalah besar baginya.
Karena,sejak awal, sekolah bukanlah prioritas utama dalam hidupnya. (Halaman
17)
Orientasi
Shanin memarkir sepedanya
dihalaman depan kedai. Cewek berambut panjang sepunggung itu turun dari
sepedanya dan hendak memasuki kedai es krim yang sudah menjadi langganannya
sejak ia pindah ke kota ini sekitar dua tahun lalu. Dengan senyuman manis bak
gula batu, Shanin mendekati kasir untuk memesan menu es krim apa yang ia mau.
(Halaman 1)
Komplikasi
“Woi Aidan!” panggil Ali
ketika Aidan menjauh. Mendengus pelan, akhirnya Aidan berhenti berjalan. Ia
memutar badaan. Ia merasakan benturan di lengannya, bersamaan dengan
terdengarnya pekikan tertahan. Aidan terlonjak kaget. Ia merasakan cairan
hangat yang hangat menjalar di badannya.
“AWAS!” Gisel memekik ngeri.
“YAH MATI GUE….” Dihadapannya,
Shanin beriri panic dengan gelas the di tangannya, yang isinya sudah setengah.
“A---idan, sori, gue ga
sengaja” Shanin berucap gugup.
Aidan menatap Shanin tajam,
kemudian melengos pergi dari hadapan teman temannya. (Halaman 20-21)
Klimaks
“Shanin.” Sentuhan di bahu
kirinya membuat Shanin menoleh, mendapati
pacarnya sedang berdiri disana.
“Gara” sebut Shanin. “Kamu
ngapain di sini? Kan belom istirahat.”
“Kamu sendiri ngapain ngapain
di sini? Kan belom istirahat.” Gara mengulang ucapan Shanin.
Shanin menangkap nada ketus
dari Gara. “Aku mau beli minum, soalnya tadi aku dihukum berdiri di bawah
bendera sampai keringetan gini” jelas Shanin
“Bareng Aidan?” Gara
memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu menatap Shanin dengan dalam.
“Enggak”
“Enggak apa?Kamu piker aku gak
liat kamu ke kantin bareng Aidan? Aku gak bego, Shanin”
Shanin tersentak mendengar itu
“Kamu kenapa, sih? Kok tiba tiba sensi gitu?”
“Aku nanya, ya dijawab. Bukan
malah nanya

penasaran. jd pgn baca novelnya
BalasHapusMenarik
BalasHapusIhh, keren banget jadi mau baca novel nyaa😍
BalasHapusKeren untuk dibahas☺️
BalasHapusudah pernah baca novelnya emang sebagus itu sih novel shaidan
BalasHapusJd penasaran mau baca
BalasHapusMenarik
BalasHapussangat bermanfaat😘
BalasHapusCerintanya sangat bagus
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusmenariiik
BalasHapus